Monday, June 17, 2013

Cerpen: My Sweet Heart

My Sweet Heart



My Sweet Heart

                                Semangaaaaaaaaaaaaaat……… memulai hari yang cerah penuh kebahagiaan. Melamun melihat keluar jendela. “AAAAAaaaaaaaaahh…” aku terkejut, suara teriakan cewe-cewe di sekolah mulai lagi. Aku pun bergegas lari menuju suara teriakan itu. Berusaha menerobos kerumunaan cewe-cewe yang sangat tergila-gila dengan dia. Dengan susah payah, akhirnya aku bisa melihat dia dengan jelas. Waaaaaah…. Aku pun berteriak seirama dengan suara teriakan yang lain. Dia adalah pujaan dan idaman para perempuan, mungkin di dunia. Oh… My sweet heart… Edward.
                                Dengan manis dia tersenyum, walau bukan untuk kami penggemarnya tapi kami sangat senang dan terpesona. Oh Edward… bawa aku kepelukan hangatmu. Tanpa sadar aku masih menatap kearah tempat yang sudah tidak ada siapa-siapa lagi. “Lagi-lagi dia, cowo cantik, Gak ada yang lebih maco”. Tiba- tiba Ami merusak keindahan Edward dengan kata-katanya. Huh.. jangan merusak kebahagiaan orang lain dong. Dalam hati. Aku melirik dengan sinis kearah Ami sambil menaikkan bibir kananku ke atas. “ Suasana nya jadi mencekam” sambil gemetar Ami ketakutan melihat lirikan mataku lalu dia pergi ke kelas. Oh… My sweet heart walau banyak orang yang mencibirmu aku akan tetap berada disampingmu. Sambil meletakan kedua tangan di dagu.
                                “Pak Wisnu…, Pak Wisnu.. datang…”. Suara teriakkan teman sekelasku. “HAH… PAK WISNU…” Aku bergegas masuk ke kelas tapi ada satu hal yang aku lupa… “DIMANA” Sepatu sebelah kananku hilang, pasti akibat tadi masuk ke kerumunan cewe-cewe tadi… Merangkak masuk ke semak-semak mencari sepatuku. “Dimana, dimana sepatuku.” Kresek… kresek… sambil mencari di semak-semak. Tanpa aku sadari ternyata Pak Wisnu mendekatiku… “ Bella, sedang apa kamu di sana?” teriak Pak Wisnu marah. Seketika aku berdiri, seketika itu juga Pak Wisnu marah-marah. Bla bla bla blab la bla bla bla bla……… panjang lebar dan aku hanya menganggukan kepala “baik pak, iya pak,” aku tidak pernah mendengarkan kata-katanya, yang aku dengar hanya Bla Bla Bla. Seharusnya aku mendengarkan nasehat dari guru, tapi aku anak yang nakal, lalu Pak Wisnu melihat kearah kakiku “Dimana sepatu kamu?....” dengan polos aku menjawab “hilang pak… L”. “HAHAHAHAHAHA :D …”  suara tertawa yang sangat puas dari teman-teman kelasku, ternyata mereka keluar kelas dan menyaksikan semua kejadian yang memalukan itu, walau itu adalah hal biasa buatku. Walau Pak Wisnu selalu marah-marah denganku tapi dia adalah wali kelas kami yang baik, dia tetap menyuruhku untuk masuk kedalam kelas tanpa sepatu sebelah kananku.
                Pelajaran pun selesai aku bergegas menuju koperasi untuk membeli sepasang sandal, Ya… pada akhirnya aku tidak menemukan sepatu sebelahku. Sepatuku tersayang selamat tinggal, aku akan menjaga pasanganmu disini.
                “Ini akibatnya, sudah aku bilang gak perlu mendambakan cowo kemayu itu” Suara jutek Ami. Suara ami bagiku seperti hembusan angin yang membuat aku lebih kokoh lagi dalam mencintai Edward. Sambil membayangkan Edward yang tersenyum manis, dengan poni lemparnya yang terhembus angin oh… sungguh cowo idamanku. Dia itu pintar, tinggi, ganteng, keren, cool, berkulit putih, kaya, bisa main gitar, pemain basket…… 
“Dia itu jutek, sok ganteng, sok kaya, sok pintar, sombong, gak pernah mau ngomong sama orang yang gak satu level dengannya, gak punya perasaan, kecewe-cewean…”
“STOP…………………” teriakku. Sungguh kejam teman sebangku aku itu, dia sudah menghina My sweet heart.
“Ami, kenapa sih kamu kaya gitu? Kamu itu gak punya rasa cinta ya sama cowo?” omel ku.
“Terus? Masalah buat kamu? Jawab Ami.
                Ami memang seperti itu sama Edward, iya hanya sama Edward. Aku gak tahu apa alasannya, tiap kali aku tanya Ami, dia malah menjelek-jelekkan Edward lagi. Huh…. Lebih baik aku gak usah nanya lagi.
@@@
                Coffee café adalah tempat favorit Edward bersama Gank Special. Gank Special terdiri dari Edward, Rio, Natasha, William, dan Sharon. Mereka memang Special, pertama Edward memiliki karakter yang kuat dijuluki sebagai “Genius Prince”, karena Edward memiliki kemampuan diatas rata-rata, dia genius dalam segala hal, semua pelajaran dapat nilai sempurna, olahraga nilai sempurna, kedisiplinan sempurna, seni sempurna. Semua tentang Edward adalah sempurna dimataku. Oleh karena itu Edward paling dihormati diantara anggota yang lain. Kedua, Rio yang memiliki kepintaran dibidang komputer, dia bisa mengotak atik sistem keamanan komputer dari mana saja, “Komputer Prince.” Ketiga, Natasha memiliki kecantikkan diatas rata-rata, iya.. dia adalah putri sekolah, dalam segala kegiatan tentang kecantikan pasti dia yang akan mewakili kami semua, “Beautiful Princess.” Keempat, William memiliki kemampuan karate, sabuk hitam sudah di dapat sejak kelas 5 SD. Hmmmmm… “Karate Prince”. Dan yang terakhir, Sharon memiliki kemampuan memainkan piano dengan sangat baik, dia sering kali mengikuti perlombaan internasional. Sharon adalah anggota yang paling ramah diantara yang lain. Dia adalah “Pianist Princess”.

                Entah sudah berapa jam. Aku masih duduk di ruang kecil ini walau matakku sudah sangat mengantuk.  Aku di sini bekerja setiap hari sepulang sekolah sebagai “penasehat cinta”. Suatu kegiatan yang special di hadirkan oleh Coffee café untuk menarik perhatian pelanggan. Aku bekerja dari jam 15.00 sampai 21.00. khusus malam minggu sampai jam 22.00. Tidak ada satupun dari pelangganku yang mengenal siapa aku sebenarnya karena aku bekerja dibalik bilik bambu hanya suara aku saja yang akan mereka dengar.
                Karena itu aku tahu tempat favorit My sweet heart.  Dan mereka juga tidak ada yang tau kalau aku bekerja disini. Aku mendengar suara yang sepertinya sangat aku kenal, karena aku sangat ingin tau siapa orang itu lalu aku mengintipnya sedikit dari bilik bambu. Ternyata memang benar dia, my sweet heart. Ada apa denganmu, apa kau mempunyai masalah tentang cinta?, hatiku terasa sakit. Mulailah dia bercerita, dia sangat mencintai orang itu, sampai dia rela melakukan apa saja demi orang itu, tetapi dia bertanya “apa yang harus aku lakukan kalau aku ingin menolak keinginannya?.........” Lalu aku menjawab “berilah alasan yang kuat mengapa kamu menolak keinginannya”. Terasa sakit hati ini memberikan nasehat kepada orang yang aku cintai untuk orang yang dicintainya.
@@@
                Hatiku galau……
“AAAAAaaaaaahhhhhh……….” Mulai lagi suara fans Edward.  Aku yang sudah tau, kalau Edward mempunyai seseorang yang dicintainya, sudah tidak bergairah lagi untuk melihatnya. “tumben diam aja!” Ami mengejek.  Kali ini pun Ami mengejekku dan aku hanya diam, tak bergairah.
“Ada apa? Kenapa kamu diam saja? Kamu sakit? Kalau sakit kenapa tidak di rumah saja?” Ami sangat khawatir.
                Disini yang aku lakukan hanya diam. Di perpustakaan yang sunyi ini memang sangat cocok buat orang yang sedang galau. Kenapa aku selalu membayangkan Edward ya… Padahal aku sedang patah hati dengannya, apakah ini yang dinamakan The Power Of Love, tetapi kenapa begitu jelas, dia sedang membaca buku didepanku… Tidak!... ini memang nyata, aku langsung menutup wajahku, sesekali… berkali-kali aku mencuri mata. Dia memang my sweet heart, godaan ini tidak mungkin aku tidak mengambilnya, aku bisa bertatap muka dengannya, duduk satu meja dengannya, membaca buku bersamanya. Ini yang selalu aku mimpikan dengannya. Tanpa aku sadari, aku tidak lagi melihatnya dengan menutup mukaku. Dipikiranku “Oh… andai saja aku adalah orang itu, orang yang kamu cintai”. Dia sudah pergi tanpa satu kata pun, memang dia tidak mengenalku mana mungkin dia berbicara padaku. Aku memang bukan anak yang pintar ataupun anak yang cantik mana mungkin seorang Edward mengenalku. Tetapi aku ingin kamu memanggil namaku, sekali saja.
@@@
                Lagi, semenjak curhat waktu itu Edward menjadi sering curhat di bilik “Penasehat Cinta” alias dengan aku, tidak hanya tentang cinta tetapi juga tentang kehidupannya, kegiatannya sehari-hari, apa yang dia sukai dan tidak disukai, perasaan dia yang disukai banyak perempuan, tipe perempuan yang dia sukai, dan ternyata ceritanya yang lalu itu tentang keinginan Ayahnya yang menginginkan dia menjadi penerus perusahaan, padahal cita-cita Edward ingin menjadi seorang dokter. Saat itu aku sangat senang dan lega mendengarnya ternyata dia belum mempunyai seorang kekasih. Banyak cerita yang telah kami habiskan di bilik, kami seperti seorang sahabat yang saling mencurahkan keluh kesah tetapi Edward lebih banyak mencurahkan isi hatinya. Seorang Edward adalah manusia biasa seperti aku yang tidak luar biasa. Semua orang kaya- miskin, cakep-jelek, pintar-bodoh mempunyai masalah masing-masing hanya kadarnya saja yang berbeda. Aku menjadi seseorang yang sangat bijak disini.
@@@
                Aku tidak tau apa yang terjadi satu minggu yang lalu, karena waktuku kuhabiskan berbaring di tempat tidurku karena aku tidak bisa berpikir secara jernih, aku tidak sekolah maupun ke bilik “Penasehat Cinta”. Dan seperti biasa hari-hariku indah dengan senyum lebarku yang memancarkan kebahagiaan, karena hari ini aku bertemu Edward di dekat rumahku, aku tak tau apa yang dia lakkukan di sana, tetapi aku sangat senang, awal hariku sudah di datangkan kebahagiaan.
                Dan sudah dua hari setelah aku kembali menjalani aktifitasku tidak lagi aku melihat my sweet heart. Hariku yang bahagia ini terasa kurang tanpa ada dia, walau dia berada jauh selagi aku bisa melihatnya sudah cukup bagiku.
                Tiba- tiba “Bella”, dengan suara yang aku kenal dan hati yang ragu,apakah benar ini nyata. Dia memanggil aku, Edward memanggil namaku “Bella”. Aku terpaku membisu, seluruh ragaku seakan melayang di udara, dan buang-bunga indah beterbangan. Aku tidak dengar apapun saat itu, aku tidak dengar apa yang Edward katakan. Hari itu sangat indah, dan tak ingin aku lupakan. Akhirnya dia memanggil namaku.
@@@
                Aku bekerja seminggu ini dengan perasaan yang amat senang. Aku pun melakukan pekerjaanku dengan baik. “Bella”. Widi teman kerjaku memanggil. “iya ada apa?”. Widi meneruskan “ Oya, aku lupa kasih tau kamu, sewaktu kamu tidak masuk kerja aku yang menggantikan kamu”. Aku menjawab “terima kasih”. Widi menambahkan lagi “kamu tau gak, pelanggan kita cowo ganteng yang suka curhat itu, nanyain kamu… dia bilang “mba yang biasa kemana?” Dan aku bilang kamu sakit, lalu dia minta  nomer telephon dan alamat kamu, aku kasih aja deh, soalnya dia minta dengan mohon-mohon sama aku jadi aku kasih deh”.
                Aku terkejut, perasaanku tak karuan jadinya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Ternyata Edward sudah tau siapa aku sebenarnya, “Penasehat Cinta” alias Bella. Aku sangat bingung.
@@@
                Dengan perasaan yang kacau, apa aku harus merasa bersalah karena aku tidak memberitahukan bahwa aku teman sekolahnya, yang sangat mengidolakannya, atau apa?... aku sangat bingung apa yang harus aku lakukan kalau aku bertemu dengannya.
                “Bella”. Edward memanggiku. Aku berlari sangat kencang karena aku takut Edward marah, benci dan  bilang tak ingin melihat wajahku di bumi ini, lalu aku harus kemana. Aku berlari ke belakang sekolah, aku menangis… aku sedih… aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, Edward mengikutiku ke belakang sekolah, lalu “kenapa kamu lari dan menangis?”, aku hanya diam dan menangis. “kamu takut sama aku?”, dia melanjutkan “ ya, aku sudah tau kamu adalah penasehat cinta, dan aku merasa senang ternyata selama ini aku curhat dengan orang yang dekat denganku walaupun sebenarnya tidak dekat, karena selama ini aku sulit untuk bercerita tentang kehidupan pribadiku ke orang lain atau teman-temanku tetapi dengan kamu, dengan penasehat cinta aku merasa nyaman untuk menceritakan semuanya. Terima kasih”. Aku diam dan tidak menangis lagi. Dia mendekat dan mencoba menghapus air mataku dengan kedua tangannya, dia mencoba meminta penjelasan mengapa aku lari dan menangis setelah aku tau dia sudah mengetahui aku adalah penasehat cinta?... aku mulai menceritakan alasanku, tetapi dia malah tertawa karena aku lari dan menangis karena aku takut dia marah, benci dan tidak mau melihat wajahku di bumi lagi. Dia bilang “Kamu memang cocok tinggal di bumi untuk berada di sampingku untuk mendengarkan curhatanku, kalau kamu tinggal di Mars, aku tidak bisa curhat lagi dengan kamu”. Kata- kata itu terdengar manis buatku, Aku tidak menyangka aku bisa tatap muka, berbicara, bercanda dan dia menghapus air mataku dengan kedua tangannya, seakan ini semua mimpi.
                Semenjak kejadian itu aku dan my sweet heart menjadi semakin dekat, dekat dan dekat. Dan selama kami sangat dekat satu sama lain, Fans Edward semakin benci padaku, tetapi buat aku itu adalah ucapan selamat, begitu juga dengan teman-teman Edward mereka masih belum bisa menerima keberadaanku dan Ami yang sebenarnya teman Edward waktu SD mulai  hilang rasa bencinya kepada Edward.
Resti Kurniawati

No comments: